Langsung ke konten utama

.

Kuharap kamu bertanya, atau sekedar menyeletuk "mengapa?". Hari itu, saat aku ingin memutuskan semua tentang afeksi yang coba kita bagi. Aku tidak melihat kelugasan baik perasaan dan keputusan darimu. Padahal sudah kubuat semudah mungkin. Bertahan di atas waktu yang singkat itu. Terasa seperti dirancang untuk membuatmu lengah dalam santai, membiarkannya tak peduli mengalir entah ke mana dan seberapa jauh keadaannya. Padahal waktunya tidak banyak. Aku merasa telah mengorbankan harga diri dan kepercayaan. Walau tau betul seberapa jauh datang dan bertahan pada hal-hal ini. Pertama, ambiguitas yang bertahan berhari-hari, bulan demi bulan. Aku ini kau anggap apa? Lain kali katakan dengan jelas. Ke dua, seberapa penting dan bermakna eksistensi orang yang sudah menyatakan banyak hal tentang hidupnya di depanmu malam itu. Jikalau penting, setidaknya katakan saja dan putuskan keadaannya. Tapi memang ketulusan, kepolosan dan kebaikanmu saat itu sekalipun tak cocok denganku. Maaf mungkin caraku tidak lembut, anggapan jahat atau benci boleh. Aku juga lama-lama muak. Duniaku jelas terdapat dirimu, tapi duniamu mungkin memang tak perlu aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?