Langsung ke konten utama

Postingan

.

Kuharap kamu bertanya, atau sekedar menyeletuk "mengapa?". Hari itu, saat aku ingin memutuskan semua tentang afeksi yang coba kita bagi. Aku tidak melihat kelugasan baik perasaan dan keputusan darimu. Padahal sudah kubuat semudah mungkin. Bertahan di atas waktu yang singkat itu. Terasa seperti dirancang untuk membuatmu lengah dalam santai, membiarkannya tak peduli mengalir entah ke mana dan seberapa jauh keadaannya. Padahal waktunya tidak banyak. Aku merasa telah mengorbankan harga diri dan kepercayaan. Walau tau betul seberapa jauh datang dan bertahan pada hal-hal ini. Pertama, ambiguitas yang bertahan berhari-hari, bulan demi bulan. Aku ini kau anggap apa? Lain kali katakan dengan jelas. Ke dua, seberapa penting dan bermakna eksistensi orang yang sudah menyatakan banyak hal tentang hidupnya di depanmu malam itu. Jikalau penting, setidaknya katakan saja dan putuskan keadaannya. Tapi memang ketulusan, kepolosan dan kebaikanmu saat itu sekalipun tak cocok denganku. Maaf mungk...
Postingan terbaru

You Had Me at Hello

Pembuka Segala sesuatunya berjalan berbeda dalam sudut pandangku. Cenderung klise. Kadang-kadang aku geli sendiri dalam pilihan kata di atas. Tapi tidak apa-apa biarlah ku pendam sendiri cerita ini. Meski begitu, kadang aku bertanya-tanya. Mungkinkah jika dirimu merasakan hal terjadi layaknya suatu situasi yang benar-benar normal. Kadang-kadang aku mengutuk dirimu, andai sekali saja kau jadi diriku. Agar mengerti sesaknya tatapanmu itu. Katanya manusia bisa berhenti merasa asing dan gelisah jika ia mendeskripsikan (mengungkapkan) mahkluk (isi) hatinya. Aku tidak suka berbicara, menceritakan sesuatu, yang aku sebut hambatan itu pada siapapun. Oleh karenanya kudeskripsikan dalam tulisan saja. Agar percakapan itu tidak menguap di udara.

Puisi 7

Lipat, Simpan, Kenakan Esok F.A. Kutanggalkan perasaanku Di ranting yang kering Meski dulu pernah bersemi Harumnya hanyut oleh angin Biarkan aku melepas kidung Yang telah pudar pula lusuh Terkikis oleh waktu dan sifatmu Dan terlanjur padu oleh keraguanku 

Puisi 6

Dekap Surya, Disembunyikan dari Bulan F.A. Ingatkah kau kala pagi menyongsong Hangat surya membelaimu lekat-lekat, lembut angin meniup lembut rambutmu, Kepak sayap burung dan nyanyiannya menyapamu Ingatkah kau kala siang bersendar Cahaya surya memerangi bayang untukmu, angin leka membawakan kabar, dan burung-burung itu setia memandangmu Ingatkah kau kala sore menjemputmu Dipayungi jingga dipersembahkan surya, angin bersama daun mengucap salamnya, dan ramah kicau mengiringi perjalananmu Namun, ingatkah kau kala malam berlabuh? Surya tak peduli padaku, dahan yang diayun angin mencerca dan burung-burung bersembunyi dariku Padahal di sanalah aku berada berteman gundah, menunggumu untuk pulang bukan maksudku menagih janji yang tak pernah ada Tetapi, kapan sekali saja kau bisa melihatku? barang esok lagi ku selalu ada