Kuharap kamu bertanya, atau sekedar menyeletuk "mengapa?". Hari itu, saat aku ingin memutuskan semua tentang afeksi yang coba kita bagi. Aku tidak melihat kelugasan baik perasaan dan keputusan darimu. Padahal sudah kubuat semudah mungkin. Bertahan di atas waktu yang singkat itu. Terasa seperti dirancang untuk membuatmu lengah dalam santai, membiarkannya tak peduli mengalir entah ke mana dan seberapa jauh keadaannya. Padahal waktunya tidak banyak. Aku merasa telah mengorbankan harga diri dan kepercayaan. Walau tau betul seberapa jauh datang dan bertahan pada hal-hal ini. Pertama, ambiguitas yang bertahan berhari-hari, bulan demi bulan. Aku ini kau anggap apa? Lain kali katakan dengan jelas. Ke dua, seberapa penting dan bermakna eksistensi orang yang sudah menyatakan banyak hal tentang hidupnya di depanmu malam itu. Jikalau penting, setidaknya katakan saja dan putuskan keadaannya. Tapi memang ketulusan, kepolosan dan kebaikanmu saat itu sekalipun tak cocok denganku. Maaf mungk...
Pembuka Segala sesuatunya berjalan berbeda dalam sudut pandangku. Cenderung klise. Kadang-kadang aku geli sendiri dalam pilihan kata di atas. Tapi tidak apa-apa biarlah ku pendam sendiri cerita ini. Meski begitu, kadang aku bertanya-tanya. Mungkinkah jika dirimu merasakan hal terjadi layaknya suatu situasi yang benar-benar normal. Kadang-kadang aku mengutuk dirimu, andai sekali saja kau jadi diriku. Agar mengerti sesaknya tatapanmu itu. Katanya manusia bisa berhenti merasa asing dan gelisah jika ia mendeskripsikan (mengungkapkan) mahkluk (isi) hatinya. Aku tidak suka berbicara, menceritakan sesuatu, yang aku sebut hambatan itu pada siapapun. Oleh karenanya kudeskripsikan dalam tulisan saja. Agar percakapan itu tidak menguap di udara.