Langsung ke konten utama

You Had Me at Hello

Pembuka

Segala sesuatunya berjalan berbeda dalam sudut pandangku. Cenderung klise. Kadang-kadang aku geli sendiri dalam pilihan kata di atas. Tapi tidak apa-apa biarlah ku pendam sendiri cerita ini. Meski begitu, kadang aku bertanya-tanya. Mungkinkah jika dirimu merasakan hal terjadi layaknya suatu situasi yang benar-benar normal. Kadang-kadang aku mengutuk dirimu, andai sekali saja kau jadi diriku. Agar mengerti sesaknya tatapanmu itu.

Katanya manusia bisa berhenti merasa asing dan gelisah jika ia mendeskripsikan (mengungkapkan) mahkluk (isi) hatinya. Aku tidak suka berbicara, menceritakan sesuatu, yang aku sebut hambatan itu pada siapapun. Oleh karenanya kudeskripsikan dalam tulisan saja. Agar percakapan itu tidak menguap di udara.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?