Langsung ke konten utama

Puisi 6

Dekap Surya, Disembunyikan dari Bulan

F.A.


Ingatkah kau kala pagi menyongsong

Hangat surya membelaimu lekat-lekat,

lembut angin meniup lembut rambutmu,

Kepak sayap burung dan nyanyiannya menyapamu


Ingatkah kau kala siang bersendar

Cahaya surya memerangi bayang untukmu,

angin leka membawakan kabar,

dan burung-burung itu setia memandangmu


Ingatkah kau kala sore menjemputmu

Dipayungi jingga dipersembahkan surya,

angin bersama daun mengucap salamnya,

dan ramah kicau mengiringi perjalananmu


Namun, ingatkah kau kala malam berlabuh?

Surya tak peduli padaku,

dahan yang diayun angin mencerca

dan burung-burung bersembunyi dariku


Padahal di sanalah aku berada

berteman gundah, menunggumu untuk pulang

bukan maksudku menagih janji yang tak pernah ada

Tetapi, kapan sekali saja kau bisa melihatku? barang esok lagi ku selalu ada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?