Langsung ke konten utama

Desire

Hidup di dunia berdampingan dengan keinginan, sejalan dengan angan² yang berusaha direalisasikan. Materi, kasih, kesenangan, pencapaian. Manusiawi. Padahal, justru keingingan itu membuat kita menderita. Seperti pisau bermata dua. Hancur karena keinginan itu sendiri. Semakin diinginkan semakin tidak sadar kita menderita karenanya. Ketika didapat pun, menderita pula karenanya. Tapi, hakikat manusia adalah memuaskan keinginannya. Siklus yang akan terus berputar.

Orang kaya menderita karena kaya, orang miskin menderita karena miskin.

Orang tua menderita karena tua, orang muda menderita karena muda.

"Inginkanlah separuh keinginan saja" -Kahlil Gibran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?