Langsung ke konten utama

Puisi 5

Segenap Biru Kelasi

F.A.


Bersyukur kau bukan pena

Yang mengerti seluk-beluk rimbun keladi,

kala rindu merengkuhku


Bersyukur kau bukan selembar kertas

Yang mengerti kepingan tajam benakku,

menusuk permukaan kian dalam


Bersyukur juga kau bukan huruf dan kalimat

Yang tau betul segalanya

karena, hanya dengan tulisan inilah

aku bisa mengkritik dan memujimu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?