Langsung ke konten utama

Pagar

Rasanya aneh bila tak dikata ada. Sedikit demi sedikit menginvasi, memupuk akar, batang dan durinya ... 

Sebagaimana adanya telah tak terkira apakah benih itu jatuh sejak dahulu ataukah baru kemarin, karena dengan melihatmu sekejab membuatnya terasa seperti kemarin.

Jika memang tak bisa ku petik, biarlah kurawat bunganya meski durinya menusuk jariku.

Karena percuma jika aku bisa memetiknya, bila nyatanya darah yang menetes dari jariku menghalangi harumnya, barang hanya setetes.

Bagaimana bisa kukatakan untuk menyukai sebab-sebab bunga itu tumbuh jika aku telah memusatkan rasa benci akan mengapa aku masih disini dan tak menemukan kehadiran bungaku sendiri?

Bagaimana bisa terjadi?

Bagaimana bisa aku menyukainya, saat aku tahu aku tidak menyukai diriku sendiri.

Aku ingin menggapai keduanya, namun pada akhirnya aku hanya bisa memilih satu. Dan aku memilih untuk tidak kehilangan diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?