Langsung ke konten utama

Awal yang Terlambat

02/02/2023

Jadi begini ya rasanya, tahun yang mana kata orang-orang sebagai tahun yang spesial sebagai manusia. Ingatan yang terus tertanam meski sudah puluhan tahun terlewati sekalipun. Tak terulang di tahun depan, pun tahun-tahun berikutnya. Ini adalah memori sekali seumur hidup. Waktu yang berjalan di habiskan dengan mengabaikan rasa takut dan sedikit kekhawatiran. Alih-alih seperti daun yang lembut dan muda daun kuncup baru, melainkan daun tunggal yang hijau dan menuju kekokohan yang rapuh.

Mendedikasikan diri sebagai tokoh utama pemberani nan naif yang sialnya masa depan kehidupan si tokoh ada pada genggaman tangannya saat-saat ini, tindak tanduknya akan menghantarkan kemanakah ia menuju ke pintu-pintu yang akan terbuka. Jadi ingatlah dimanapun dan kapanpun kamu berada, akankah kamu merasakan perasaan manis dan pahit yang jadi satu juga, serta keinginan untuk memutar waktu untuk merasakan pertama kalinya ke saat itu... tahun itu....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi 1

  Dikau Kemuning F.A. Angin leka membelai gersang Kemuning berayun canggung Angin melayang setiap fana Hendak mengusir mendung Harum sesaat sempat menempat Diantara jingga hingga biru Angin berkata tuk bawakan awan Hapuskan jejak-jejak harummu

Bertukar Senja

Ingin ku tahu bagaimana penampang langit senja di sana. Langit yang sama di sini, tidak terlalu cantik. Di mataku, kilau jingga mereka tertutup atap-atap rumah dan gedung tinggi. Manusia tidak makan kata-kata bukan? Tapi setidaknya kamu bisa melihat melalui kata-kataku. Langit di sini merona seiring sunyi, satu-persatu burung gereja hinggap di pohon, angin semilir dan suara kereta di dekat rumahku tertanda jelas. Dulu sekali kita pernah bertemu di bawah senja juga. Tak begitu buruk, katamu. Yang mana satu? kau setengah puji dan setengah sindir itu. Pertemuan kita, atau langit kala itu? Jika saja aku bisa bertanya demikian. Kapan, suatu saat kita bisa melihat senja di ruang, waktu dan perasaan yang sama?