08/10/2021
HILANG
Cerpen F.A. (Jum'at, 8 Oktober 2021)
Dengan penuh amarah Ivan menutup pintu rumahnya dengan keras. Ia pergi dari rumah saat matahari mulai tenggelam. Ia masih ingat bunyi vas bunga jatuh. Itu vas kesayangannya. Vas yang tidak boleh pecah. Tapi semua sudah terjadi. Pecahan-pecahan vas itu bahkan masih berserakan di lantai saat ia meninggalkan rumah.
Seketika dengan wajah muram ia memandang jalan sambil terus memikirkan, apa yang akan dikatakan Ibunya jika tahu vas porselen putih itu sudah pecah? Ia menapaki jalan; satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah dan entah nanti sampai berapa saat akhirnya ia berbalik lagi. Bunyi vas jatuh tidak juga pergi dari kepalanya. Bunyi yang terekam dalam kepala dan muncul berulang-ulang.
“Sudah,” ucapnya dengan kesal. “Semua sudah terlanjur terjadi, nasi sudah jadi bubur.” Ivan marah pada dirinya sendiri. Harusnya ia tidak menggeledah meja dengan buru-buru. Sehingga vas itu mungkin masih utuh. Jalan di depannya masih panjang. Sambil melanjutkan perjalanan, ia tetap memikirkan vas yang pecah itu. Ivan sudah menyimpan vas itu dengan baik. Awalnya ia simpan di rak khusus tempat ia menyimpan macam-macam benda kesayangan.
Bila ia rindu pada ibunya, ia sesekali mengeluarkan vas itu untuk sekedar memandangnya. Mengingat bagaimana saat Ibunya mengantarnya ke stasiun, memberinya hadiah ulang tahun. Dan mengatakan. “Van, selamat ulang tahun ya. Saat kamu ulang tahun begini bukannya di rumah merayakannya bersama keluarga di rumah, kamu malah pergi jauh.” Ivan tahu. Ibunya sangat menyayanginya, dengan memikirkannya saja membuat hatinya tenang.
Tapi kini vas itu sudah berakhir. Menjadi kepingan-kepingan tajam. “Ah.. bagaimana ini?” Ivan mengacak-acak rambutnya sambil bergumam. “Uangnya tidak ketemu, bahkan gara-gara mencarinya, vas itu pecah.”
Tepatnya saat malam lusa kemarin. Keringat diseka saat pekerjaan selesai. Setelah jam kerjanya habis, Ivan memutuskan untuk mengecek uang di ATM. Ivan mendengar kabar baik, gaji bulan ini yang sempat tertunda akhirnya cair juga. Ia sempat khawatir. Ibunya menelepon pagi ini, penagih hutang datang ke rumah. Tak lain dan tak bukan karena hutang-utang itu belum dilunasi. Sudah lewat tenggat waktu pembayaran katanya.
Ivan tidak memikirkan bagaimana uang itu dipakai untuk dirinya. Ia harus segera mengirim uang itu ke Ibunya. Tetapi hari sudah gelap. “Kukirim besok pagi saja.” Gumamnya. Ia memutuskan untuk pulang dan mengirim uang itu besok pagi. Ke rumahnya, rumah yang sangat jauh.
Pagi harinya Ivan masih tidur dengan lelap. Melewatkan azan subuh, padahal biasanya pagi-pagi sekali ia sudah bersiap dan menggelar sajadah. Beribadah, mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Tidak biasanya ia abai. Sudah beberapa hari ia melewatkan waktunya untuk beribadah. Semenjak ayahnya tak bekerja, Ivan menyibukkan dirinya untuk bekerja menggantikan ayahnya. Memusatkan semua perhatiannya pada pekerjaan itu, dan justru melewatkan hal yang sangat penting.
Dingin membangunkannya. “Jam berapa?” tanya Ivan. Jam di dinding menunjukkan angka sembilan. Ia menggeliat, duduk dan segera merasakan dinginnya udara yang membungkus tubuh.
Setelah mandi ia bersiap untuk pergi untuk mengirim uang yang ia ambil kemarin. Tetapi saat semua sudah siap, uang itu tidak ada. Seketika ia panik. Uang itu hilang. Ivan menggeledah isi tasnya. Tak puas hanya menggeledah, Ivan menumpahkan semua isi tasnya. Merogoh tiap kantong dalam tas. Tapi hasilnya tetap nihil. Ivan terduduk dengan isi tas yang masih berserakan. Lalu terakhir kali ia ingat uang itu ada di meja. Beberapa kali di carinya di laci mana pun, uang itu tetap tidak ketemu.
Pagi tadi Ivan menemukan pintu kamarnya terbuka. Melihat pintu yang terbuka, perasaan Ivan menjadi tidak enak. “Cerobohnya aku, tadi malam pintu kamar lupa ku kunci.” Perasaannya bertambah risau saat tak menemukan amplop putih berisi uang gajinya di mana pun.
Ivan Julianto lahir dan besar di kampung, kini ia bekerja di Bandung. Gajinya pas-pasan, jika tak bisa disebut kurang. Meski begitu, ia jarang mengeluh. Satu-satunya hal yang paling ia keluhkan adalah tetangga kosnya. Yang kerap masuk ke kamar dan meminjam barang-barang seenaknya tanpa izin. Sering kali barang itu tidak dikembalikan. Melihat bagaimana perilaku tetangga kosnya Ivan yakin bahwa ada yang mengambil uangnya.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Ivan kehilangan uang atau barang. Saat itu saat pak Sudiman selaku satpam di sekitar lingkungan kos masih bekerja. Pak Sudiman melihat seorang yang berperawakan kurus dan tinggi keluar dari kamar Ivan. Orang itu mengunci lagi pintu itu seperti semula. Kunci kamar kos hanya dimiliki penghuni kamarnya, itu menandakan bahwa ia memiliki kunci serupa atau bisa di bilang ia punya duplikat kunci itu. Pak Sudiman memergoki orang itu. Dengan sigap orang itu lari. Karena usia pak Sudiman sudah tidak lagi muda, ia tidak bisa mengejar kecepatan orang tersebut dan orang itu kabur di antara sela-sela rumah.
Pak Sudiman menerangkan ciri-ciri orang tersebut. “Hanya ada satu orang yang benar-benar cocok dengan ciri-ciri yang bapak sampaikan.” ujar Ivan. Ivan mengadu pada Ibu kos, Bu Imah namanya. Bu Imah mengizinkan Ivan untuk menggelar inspeksi. Dan benar saja pencuri yang selama ini dicari adalah tetangga kosnya sendiri, Revi.
Kali ini Ivan kembali kehilangan uang, ia meyakini uang itu telah dicuri. Ivan mendatangi Revi dan menuduh Revi telah mengambil uangnya itu. “Rev Jujur saja, kau mengambil sebuah amplop putih dari kamarku kan? Aku maafkan jika memang kau ambil, tapi tolong jujur padaku, aku sangat butuh uang itu.” lalu Revi menjawab, “Tidak Van, aku tahu dulu aku pernah mencuri darimu. Tatapi aku sudah berjanji tidak akan mencuri lagi, tidak mungkin aku akan mengingkarinya. Lagi pula sekarang aku sudah mendapat pekerjaan.” Dengan perasaan masih mengganjal Ivan menjawab “Baiklah, aku percaya padamu. Semoga yang kau katakan benar adanya.”
Lalu Ivan bertanya kepada tetangga kosnya yang lain. Sekiranya melihat atau menemukan amplop berisi uang miliknya. Tetapi hasilnya nihil. Esoknya Ivan melihat Edo salah satu tetangga kosnya, membawa sebuah kotak kardus. Edo mengeluarkan sesuatu dari kardus itu. Sebuah helm berwarna hitam. Ivan ingat saat mereka ke toko di kota beberapa waktu yang lalu, Edo bilang ingin sekali mengganti helm lamanya dengan helm baru. Tapi Edo mengaku dia tidak punya uang. Melihat Edo tadi membuatnya curiga, tetapi Ivan tidak punya bukti.
Ivan sudah menyerah, mencari ke sana kemari tetapi tak kunjung menemukan apa yang dicari. Ivan terpekik meneriakkan nama Tuhan di hatinya. “Ya tuhan, aku lelah. Kenapa engkau mengujiku seperti ini.” Ia menghela nafas. Untuk terakhir kalinya ia mencari amplop putih itu di kamarnya, mengharap keajaiban datang. Tetapi tak ada apa-apa di tas, atau di lemari. Perasaan kesal meluap-luap. Untuk terakhir kalinya ia mencari lagi di meja. Menuntut bahwa uang itu harus ada di laci meja. Bagaimana pun juga ia tak menemukan kertas itu. Kertas-kertas yang saat ini ia butuh kan. Kertas-kertas yang membuatnya jauh-jauh datang.
Gelagar suara vas pecah, menghantam permukaan lantai. Bunyi itu seketika membuat Ivan membeku. Ia tak sengaja menjatuhkan vas itu. Pecahan vas berserakan di mana-mana. “Sial.” ucapnya. Ivan melangkah menuju pintu dengan hati-hati. Saat sudah sampai di depan pintu, ia berbalik melihat vas porselen putih sudah menjadi kepingan-kepingan tajam yang bisa melukai kulit. Lalu Ivan pergi dari rumah.
Begitulah kejadiannya. Kini terlihat langit jingga membentang luas. Ia berjalan dengan langkah malas. Sesekali ia berhenti, lalu menapak lagi. Pandangan matanya kosong. Di tengah perjalanan ia melihat seorang anak berjalan bersama ibunya, anak itu terlihat sangat senang dan memandangi benda yang ia pegang. Benda yang dibawanya adalah sebuah bola.
Lalu Ivan teringat dirinya saat masih kecil. Saat pulang sekolah ia pergi bermain bola bersama teman-temannya di lapangan. Sangat menyenangkan. Lalu bila pulang saat langit berwarna jingga seperti ini, sudah dipastikan ia akan mendapat omelan dari Ibunya. Ivan berpikir saat anak-anak kita begitu senang bisa bermain tetapi saat dewasa kita harus memikirkan banyak hal dan menghawatirkan hari esok.
Ivan berhenti berjalan. Lalu ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Sebentar lagi magrib, ia segera bergegas menuju rumah. Membersihkan diri dan beribadah, meminta ampunan dan berkeluh kesah meminta pertolongan kepadanya. Ivan kembali membuka lembaran Alquran setelah sekian lama tidak pernah menyentuhnya. Betapa terkejutnya ia amplop putih yang ia cari selama ini ada di antara lembaran halaman Alquran. Ivan tersenyum senang. Ia ingat bahwa biasanya ia meletakan lembaran-lembaran uang itu di dalam Alquran. Lalu Ivan menyesali perbuatannya selama ini. Seharusnya dia tidak serta merta langsung menuduh orang tanpa bukti, hanya berdasarkan prasangka.
Komentar
Posting Komentar